Showing posts with label View Air Terjun. Show all posts
Showing posts with label View Air Terjun. Show all posts

Thursday, 7 May 2015

Curuq Setawing

Masih di pagi yang sama di tanggal 3 Mei 2015 setelah kita dari Gunung Lanang kami melanjutkan perjalanan ke Curug Setawing. Akses jalan ke Curuq Setawing tampak jelas di tepi jalan karena jika ingin pergi ke grojogan sewu, kita akan melewati jalur jalan ke air terjun Curug Setawing. Lebih tepatnya, ketika sudah masuk ke jalan kiskendo dan mengambil arah ke grojogan sewu, air terjun Curug Setawing berada di kanan jalan.

Peta jalan ke Air terjun Curug Setawing Kulon Progo Yogyakarta :


Lokasi curuq ini berada di Dusun Jonggrangan, desa Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo Yogyakarta. Setelah melewati Pasar Jonggrangan ini emang salah satu point atau ancer-ancer yang sangat membantu untuk menuju ke Curug Setawing. Kita ikuti jalan yang sudah dicor semen ketika menemukan pertigaan, kita ambil arah kiri dan sampai di parkiran yang merupakan salah satu rumah warga yang dikembangkan oleh warga sekitar menjadi tempat parkir untuk pengunjung.

Pintu masuk ke air terjun Curug Setawing :
 

 


Untuk sampai ke Air Terjun Curug Setawing, dari tempat parkir kita harus berjalan  kaki 250 meter, bahkan menurut saya akses perjalannya sangat mudah dibandingkan dengan Curug Grojogan Sewu, Kembang Soka, Kedung Pedut yang akan membutuhkan tenaga lebih untuk berjalan karena kondisi jalan yang naik turun. Jalan menuju curug inipun sudah dicor semen.

Curug Setawing ini berada di sisi jalan pertanian warga, pagi ini kami melihat aktivitas warga Jonggrangan yang mata pencahariannya dari pertanian dan perkebunan. Kami bertemu dengan petani yang sedang mengarap sawah, membawa rumput untuk ternak dll. Dengan semakin banyaknya pengunjung yang datang ketempat ini, semua dikelola oleh masyarakat sekitar yang sangat memperhatikan kebersihan dan terbukti sudah menyediakan tempat sampah di beberapa titik jalan.

Curug Setawing mulai resmi dibuka di awal bulan Januari 2015, dan banyak dikunjungi oleh wisatawan dikarenakan banyak perbincangan di social media dikalangan pecinta alam  dan yang suka blusukan ke tempat - tempat seperti. Yang menjadi keunggulan di tempat ini adalah dengan penampilan tempat yang bersih tapi masih alami serta akses jalan yang sangat mudah hanya dengan berjalan kaki 250 meter saja tidak perlu tenaga karena medannya sangat bersahabat sekali.


 
Tidak memerlukan uang banyak hanya cukup membayar uang parkir untuk motor Rp 2000, sedangkan mobil Rp. 5000 dan semacam retribusi yang masih bersifat sukarela, oya jangan lupa untuk mengisi buku tamu tuliskan kesan dan saran kalian biar kedepan curug ini makin lebih baik. Fasilitas seperti toilet  dan tempat beribadah juga sudah tersedia dengan kondisi yang bersih. Pokoknya kita nikmati trip apapun kondisinya yang penting sampai tujuan dan dapat pulang kerumah dengan selamat.

Friday, 1 May 2015

Curuq Kedung Pedut

Wisata Kulonprogo sudah mulai bergeliak untuk mengenalkan namanya di masyarakat lokal maupun nasional, salah satunya adalah Wisata alam Kedung Pedut Samigaluh. Lebih tepatnya di dusun kembang, desa Jatimulyo, kecamatan Girimulyo, kabupaten Kulonprogo.


Untuk mengunjungi daerah ini di sarankan pada pagi hari karena airnya masih jernih dan keunikan yang menggambarkan betapa jernih dan birunya kedung tersebut. Wisata air terjun ini kita akan bertemu dengan air terjun pertama yang lokasinya tidak jauh dari tempat parkir, karena kami datang kelokasi ini tgl 19 April 2015. Cuaca masih sangat dingin dikarenakan hari Sabtu kemarin wilayah sini turun hujan seharian sehingga pagi harinya masih sepi dan berkabut. Oya tak lupa dengan curah hujan semalam menjadikan air terjunnya tidak berwarna bitu muda lagi tetapi seperti kecoklatan.

Air Terjun pertama yang menyapa kita adalah satu air terjun dengan beberapa grojogan air kecil dibawahnya dikarenakan airnya yang cukup deras  dan menutup jalan sehingga kita harus melepas sepatu / sandal bila tidak mau basah. Air nya sangat jernih dan tentu saja dingin banget.



 





Dinamakan kedung pedut dikarenakan airnya melimpah karena akan nampak seperti kabut kapas di sekitar air mengalir saking derasnya. Seperti tempat wisata lainnya, di wisata ini juga disediakan tempat - tempat bersantai dari bambu. Jika ingin bermain air, kita juga dapat berenang dibawah air terjun karena terdapat kolam yang lumayan lebar untuk berenang, walaupun tidak terlalu dalam.

Biaya menuju lokasi juga masih sangat terjangkau :
Tiket Masuk wisata : Rp : 3.000, - / orang
Uang Parkir : Rp. 2.000,- / motor, Rp. 5.000,- / mobil

Gak usah jauh - jauh untuk mencari tempat buat rekreasi karena bisa jadi beberapa tempat menarik ada di sekitarmu.

Thursday, 23 April 2015

Pesona Curug Kembang Soka

Trip kali ini masih mengusung tema Explore KulonProgo, mungkin sekarang daerah ini sudah banyak diperbincangkan di media sosial terkait dengan keindahan alamnya baik Goa, Air Terjun, Puncak, Gunung dan Gardu pandang yang tidak kalah dengan tempat lain.

The Jewel of Java kiranya pantas disematkan untuk kabupaten yang ada di sisi barat Jogjakarta. Wilayah yang didominasi dengan perbukitan Menoreh menegaskan tak ubahnya menjadi zamrud di pulau Jawa. Selain terkenal karena adanya barisan perbukitan yang memanjang dari selatan ke utara. Kulonprogo juga memiliki beberapa tempat yang sangat terkenal seperti : Pantai Glagah, Kali Progo, Puncak Suroloyo, pelabuhan dan mega proyek yang akan dibangun di Kulonprogo yaitu bandara.


Di kutip dari situs resmi Pemerintah Daerah Kulonprogo, filosofi mendalam terkandung dalam kata Kulonprogo yang ditulis menjadi satu. Hal ini melambangkan bahwa Kulonprogo menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Huruf ‘K’ didesain seperti bentuk keris dengan alur memanjang baik vertical dan horizontal melambangkan bahwa Kulon Progo adalah suatu wilayah yang kaya akan nilai seni dan budaya Jawa. Hal ini karena mayoritas penduduknya adalah suku Jawa.

Huruf ‘P’ melambangkan kepala Elang Jawa di mana burung tersebut merupakan salah satu burung endemic Pulau Jawa. Di dalamnya terdapat nilai keberanian, keteguhan dan komitmen Kulonprogo untuk melindungi kekayaan alam yang ada.

Huruf ‘G’ mengibaratkan sisi kendi yang lazimnya untuk menyimpan air. Kendi bagi masyarakat Kulonprogo dianggap sebagai lambang keramahan, penerimaan dan nilai kekeluargaan. Nilai ini tumbuh dan berkembang dalam kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.

Huruf ‘O’ yang ada pada bagian akhir dari kata Kulonprogo dibuat seperti permata yang penuh kilauan melambangkan potensi yang ada. Potensi itu tentu saja tersebar dari seluruh bagian baik yang ada di laut, darat maupun udara.

The Jewel of Java, Branding tersebut sudah luncurkan sejak April 2011 lalu bertempat di Jakarta untuk memperkenalkan Kulonprogo kepada dunia nasional maupun internasional yang memiliki potensi luar biasa seperti pada perdagangan, pariwisata, dan investasi.

Ibarat sebuah permata yang belum terasah, Kulonprogo perlu digarap, dikelola, dan dikembangkan dengan sentuhan, polesan, dan kreativitas dalam sebuah kerangka kerja sama berbagai pihak hingga bisa menjadi permata kemilau di tanah Jawa.

"Kulon Progo The Jewel of Java" tagline promosi Kabupaten Kulonprogo yang mengandung maksud filosofi jewel atau mutiara itu adalah sebuah benda yang indah namun terpendam di dalam lautan tertutup kerang dan sulit ditemukan. Kalau dipikir ada benarnya karena daerah Girimulyo yang diartikan ke dalam bahasa Indonesia : giri itu gunung dan mulyo itu artinya makmur atau kaya banyak objek wisata tersembunyi yang ternyata juga seindah mutiara tetapi berada di perbukitan bahkan beberapa lokasi ada di daerah terpencil.

Untuk mencapai lokasi tujuan sekarang sudah mudah, akses akomodasi seperti jalan beraspal sudah sampai ke lokasi tujuan, serta papan petunjuk juga sudah banyak tersedia karena oleh pemerintahan Bapak Hasto selaku Bupati Kulonprogo hal ini sangat diperhatikan. Tempat lain yang bisa kita kunjungi seperti : Goa Kiskendo, Grojogan Sewu, Waduk mini Embung Kleco, Curug Setawing,  Curug Kedung Pedut , dan masih banyak lagi yang bisa di explore.

Nah sekarang saya akan mengeksplore keindahan Curug Kembang Soka. Curug Kembang Soka terletak di Desa Jatimulyo, Girimulyo yang sekarang mulai dipadati oleh para wisatawan lokal.

Untuk semua teman - teman yang mau kesana tetap harus ramah lingkungan ya jangan corat - coret yang tidak perlu, apalagi buang sampah sembarangan karena disini sudah disediakan tempat sampah. Dan untuk retribusinya cukup menyiapkan uang Rp 5000, 2 ribu untuk parkir dan 3 ribu nya untuk masuk ( dana kebersihan lebih tepatnya ).

Menuju lokasi ada beberapa jalan bisa lewat waduk sermo terus ke kalibiru terus ke daerah jatimulyo (arah ke Pringtali). Kalau lewat Wates bisa dari Clereng ke Utara terus ke arah Pring tali (pertigaan sebelum masjid yang ada jembatanya ambil lurus ke jalan yang kecil). Kalau dari Nanggulan bisa mengikuti rute ke Goa KIiskendo atau Grojogan Sewu terus ambil arah ke Gunung Kelir ( jalan godean ke barat terus ) .

Fasilitas lain sudah ada kamar mandi, warung untuk beristirahat dan mengisi tenaga, tempat sampah ramah lingkungan dibanyak titik, juga disediakan tempat istirahat dari bambu sehingga kita bisa beristirahat jika kelelahan.

Apa yang menjadi keindahan di curug ini ?
1.    Tentu saja kerena bertemunya 2 air terjun dari air terjun kali mili dan tempuran
2.    Gak cuman itu saat kita masuk ke lokasi sudah disambut keindahan air terjun yang berkelok – kelok di ujung pengihatan
3.    Air terjunnya saya bilang sangat banyak, jadi pengen mandi kalau melihat air terjunnya banyak gini.
4.    Lokasi yang luas, sehingga pada saat kita mau pulang harus melewati medan dengan jembatan bambu untuk memudahkan penyeberangan itu pun diatas air terjun langsung lho.
  

 


 
Dari beberapa air terjun yang pernah saya kunjungi saya paling suka sama tempat ini seakan mata sangat dimanjakan dengan keindahannya, mungkin juga walaupun lokasinya cukup luas tetapi medannya tidak susah, hanya kendalanya mungkin harus ekstra hati - hati kalau tidak mau terpeleset karena setelah hujan pasti jalannya becek seperti gambar diatas.

Friday, 17 April 2015

Curug Panjang Mega Mendung


Bogor memang menjadi tempst wisata yang menarik untuk dapt dikunjungi dan melepas penat dari kesibukan dan kemacetan di Bekasi. Berawal dari rasa jenuh yang melanda, kami mumutuskan untuk main ke Puncak di Bogor dan kebetulan ada teman kerja yang punya Villa disana,  kami sekantor menginap di villa Bu Melly.
 


Di Bogor arah puncak banyak sekali Curug yang bertebaran dikaki gunung Gede  atau  perbukitan-perbukitan kecil. Diantara banyaknya curug ada sekitar 9 curug diantaranya Curug Panjang yang ada di lereng Gunung Paseban, Desa Citaming-Paseban, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor dengan ketinggian 1000 mdpl. Berjarak sekitar 8 km dari jalan raya Puncak. Akses masuk melalui pertigaan Masjid Nurul Huda atau jalan kearah Reskrim Polri Megamendung lalu belokkan mobil ke jalan disamping masjid tersebut.

Pagi hari setelah senam kita memang bersiap untuk menuju ke curug  / air terjun di sana karena disekitar villa memang ada 9 air terjun tapi yang paling dekat ya di Curug Panjang Mega Mendung ini. Selama perjalanan kita akan disuguhi keindahan panorama langit pegunungan dari sisi timur ada Gunung Gedhe Pangrango dan sebelah barat ada Gunung Salak. Jalanan berkelok menukik yang mesti berhati-hati karena jalan berupa macadam dan tidak sedikit yang tergerus air hujan. Sesampai dibawah kita akan disambut dengan batu-batuan cadas yang tertata tak beraturan tetapi membawa kesan alami tersendiri.

 
   





Curug panjang adalah curug keluarga, karena karakteristik curugnya yang landai dengan beberapa kolam jernih sebagai tempat bermain bagi anak-anak. Tak hanya curug, wisata curug panjang pun menyediakan fasilitas wisata lainnya yaitu perkemahan dan pemancingan.

Thursday, 16 April 2015

Air Terjun Sri Gethuk seperti Grand Canyonnya Jogja

Wisata air terjun di Gunung Kidul seperti sebuah oase di daerah yang terkenal tandus dan kering. Bila berkunjung kesini pada musim penghujan airnya akan berwarna coklat dan bila dimusim kemarau aliran sungai berwarna hijau membelah ngarai dengan air terjun indah yang tak pernah berhenti mengalir disetiap musim tampak seperti zamrud yang meliuk – liuk di tengah hutan, sangat indah sekali. 


Lokasi air terjun berada di Padukuhan Menggoran, Desa Bleberan Kecamatan Playen Kabupaten Gunung Kidul Jogja. Berada di antara ngarai Sungai Oya yang dikelilingi persawahan yang hijau, Air Terjun Sri Gethuk selalu mengalir tanpa mengenal musim. Suaranya menjadi pemecah keheningan di bumi Gunung Kidul yang terkenal kering dan tandus, ternyata menyimpan keindahan yang serupa dengan eksotisme Grand Canyon yang ada di daerah utara Arizona Amerika Serikat.

    


Tempat ini menjadi salah satu tujuan wisata yang sayang bila dilewatkan. Perjalanan mencapai tempat ini berjarak sekitar 40 km dari kota Jogja, kita akan melewati area hutan kayu putih milik Perhutani dengan kondisi jalan yang masih belum sempurna, kadang jalannya beraspal bagus dan kadang harus bergelombang dengan kondisi tanah berkapur. Pepohonan jati yang kering di musim kemarau dan tanaman yang menghijau dimusim penghujan seakan mempunyai warna tersendiri. 


Dari beberapa Informasi yang didapat air terjun ini dinamakan Sri Gethuk karena  menurut keyakinan dari warga sekitar, dulunya tempat ini digunakan oleh bangsa jin sebagai tempat penyimpanan instrumen gamelan bernama kethuk. Informasi lebih jelas bisa didapat dari buku petunjuk wisata yang banyak dijual di sana.

Sri Gethuk terdiri dari tiga air terjun. satu air terjun letaknya agak tinggi sehingga kita harus memanjat bebatuan setinggi kurang lebih dua meter untuk menikmatinya. Air terjun ketiga berada di balik lorong kecil sepanjang tiga meter. Fasilitas yang sudah dilengkapi toilet dan kamar ganti serta beberapa tempat makan yang menjual menu tradisional seperti : pecel, tiwul, tape dan minuman ringan lainnya.

Yuk yang belum pernah datang ke Jogja, silahkan berkunjung ke Kota Kami :D

Monday, 23 March 2015

Guci – Tegal


Awal perjalanan ini sebenarnya untuk menghadiri acara Pernikahan teman kantor kami yang diadakan di daerah Tegal. Kami berangkat di akhir bulan Februari 2015 kemarin. Kita berangkat ada 4 mobil dan dimulai dari Jogja sekitar jam 21.00 dan secara beriring – iringan mobil dan beberapa kali berhenti untuk menunggu mobil yang masih berada dibelakang.

Ditengah perjalanan kami berhenti untuk makan malam dulu, ya soalnya banyak peserta yang kebanyakan kaum pria alhasil merekakan orangnya cepet lapar, jadi kita yang wanita ya mengalah saja dan ikut memesan bakmi kuah didaerah sana. Setelah semua selesai kami melanjutkan kembali perjalanan ini. Akan tetapi rumah mempelai yang berlokasi di kecamatan Balapulang Kab Tegal tempatnya sedikit masuk dan menerabas kesunyian malam didaerah pedesaan, kamipun harus bertanya dengan warga didaerah sekitar dan sampai di tempat lokasi jam 05.00 pagi setelah beberapa kali berhenti diperjalanan untuk memprediksi waktu tidak terlalu pagi sampai dirumah calon mempelai.


Selamat kepada mempelai Maz Zulmy dan Mba Sandra, semoga menjadi keluarga yang samawa, langgeng sampai hari tua Amin. Setelah beramah – tamah dan beristirahat sebentar untuk melanjutkan menghadiri acara pernikahan tersebut. Alhamdulillah acara berjalan lancar kamipun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan untuk balik ke Jogja. Setelah berganti baju santai kami menyempatkan diri untuk mengunjungi salah satu objek wisata yang sangat terkenal didaerah tersebut yang bernama Guci.
 

Guci terletak dalam kawasan wisata Air Panas Guci, tepatnya di Desa Guci, Kecamatan Bumi Jawa, Kabupaten Tegal, Propinsi Jawa Tengah dengan luas 210 Ha, berada di kaki Gunung Slamet bagian utara dengan ketinggian ± 1.050 meter. Dari kota Slawi sekitar ± 30 km atau sekitar 40 km dari kota Tegal ke arah selatan dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam berkendara.  Untuk menuju kesana dapat menggunakan kendaraan pribadi atau umum. Dari kota Tegal ambil jurusan ke selatan menuju Purwokerto, setelah melewati kota Slawi akan tiba di daerah Kecamatan Lebaksiu. 

Di kecamatan ini akan ditemui pertigaan (terdapat penunjuk jalan ke arah Guci) bernama Yomani (Yamansari-Lebaksiu).  Ambil belokan ke kiri ke arah Guci.  Dan akhirnya setelah kurang lebih 25 km dari pertigaan tersebut, terlebih dahulu melewati kecamatan Bumi Jawa dan Desa Tuwel, akan tiba di Guci.  Kondisi jalan menuju ke sana sudah beraspal baik dengan kontur jalan naik turun dan berbelok-belok. Dapat juga ditempuh dari kota Pemalang dengan mengambil rutel ke arah jurusan ke arah Purbalingga. Setelah sampai di pertigaan Moga, ambil belokan ke kanan ke arah Guci. Bagi yang menggunakan kendaraan umum dari Slawi naik mini bus jurusan Bumi Jawa dengan ongkos Rp 5000.  Setelah sekitar 30 menit perjalanan turun di Desa Tuwel.  Dari desa tersebut dilanjutkan dengan naik kendaraan bak terbuka menuju Guci. Waktu yang dibutuhkan sekitar 30 menit dengan ongkos Rp 5000.

Akhirnya untuk pertama saya bisa menginjakkan kami di sini rasanya senang. Dulu teman saya juga dari daerah sini dan banyak sekali cerita tentang tempat ini yang di sampaikan oleh Ponti Bayu Utama sewaktu saya masih kerja di Bekasi.

Harga Tiket Masuk Untuk Hari Biasa :
•    Dewasa : Rp. 5.000,- + Asuransi Jasa Raharja
•    Anak-anak : Rp. 4.500,- + Asuransi Jasa Raharja
Harga Tiket Masuk Untuk Hari Libur/Tanggal Merah
•    Dewasa : Rp. 7.000,- + Asuransi Jasa Raharja
•    Anak -anak : Rp. 6500, - + Asuransi Jasa Raharja

Ada sekitar 10 air terjun yang terdapat di daerah Guci. Di bagian atas pemandian umum pancuran 13, terdapat air terjun dengan air dingin bernama Air Terjun Jedor. Dinamai begitu karena dulu tempat di sekitar air terjun setinggi 15 meter itu adalah milik seorang Lurah yang bernama Lurah Jedor. Pancuran 13 adalah objek wisata berupa pemandian air panas, dimana sumber air panasnya keluar langsung dari pancuran sebanyak 13, yang diyakini memberi tuah dan kesehatan bagi yang mandi dibawahnya. Air yang mengalir dari pancuran-pancuran di obyek wisata ini dipercaya bisa menyembuhkan penyakit seperti rematik, koreng serta penyakit kulit lainnya, khususnya Pemandian Pancuran 13 yang memang memiliki pancuran berjumlah tiga belas buah.

Untuk berkeliling di sekitar obyek wisata dapat dilakukan dengan menyewa kuda dengan tarif sewa yang relatif murah, selain itu fasilitas yang tersedia antara lain penginapan (kelas melati sampai berbintang), wisata hutan (wana wisata), kolam renang air panas, lapangan tennis, lapangan sepak bola, dan bumi perkemahan.

Mitos / Legenda

Diceritakan air panas Guci adalah air yang diberikan Walisongo kepada orang yang mereka utus untuk menyiarkan agama Islam ke Jawa Tengah bagian barat di sekitar Tegal. Karena air itu ditempatkan di sebuah guci (poci), dan berkhasiat mendatangkan berkat, masyarakat menyebut lokasi pemberian air itu dengan nama Guci. Tapi karena air pemberian wali itu sangat terbatas, pada malam Jumat Kliwon, salah seorang sunan menancapkan tongkat saktinya ke tanah. Atas izin Tuhan, mengalirlah air panas tanpa belerang yang penuh rahmat ini.

Sejarah

Obyek Wisata Guci bermula setelah ditemukannya sumber mata air (bahasa jawa: tuk) di Desa Guci dan diteliti tidak mengandung racun. Maka pada tahun 1974 pemandian air panas dibuka untuk umum dengan fasilitas yang masih alami dan belum dibuat seperti sekarang ini, wisatawan masih mandi di bawah gua sumber mata air panas yang konon tempat itu merupakan daerah kekuasaan dayang Nyai Roro Kidul yang bertugas di wilayah sungai sebelah utara Gunung Slamet atau lebih dikenal Kali Gung. Dinamakan Kali Gung sebab bersinggungan dengan mata air yang agung yakni aliran mata air panas yang melimpah sepanjang tahun, dayang Nyai Roro Kidul bernama Nyai Rantensari yang berwujud naga maka di Pancuran 13 tersebut dibuat Patung Naga untuk mengingatkan akan daya mistis yang ada dikawasan Obyek Wisata Guci.

Di kawasan tersebut juga terdapat pohon beringin dan pohon karet yang sudah ratusan tahun yang konon ditanam oleh keturunan Kyai Klitik yang bernama Eyang Sudi Reja dan Mbah Abdurahim pada tahun 1918. Dengan maksud agar daerah tersebut tidak mudah longsor, kuat serta rindang. Sampai sekarang pemandian air panas Guci menyimpan misteri kegaibannya sebab merupakan peninggalan para wali terdahulu penyebar agama islam, dan masih banyak tempat – tempat yang menyimpan sejarah seperti petilasan Kyai Mustofa dan makamnya di Pekaringan berjarak 5 KM dari Desa Guci, Kyai Mustofa adalah seorang ulama keturunan kanjeng Sunan Gunungjati yang syiar Islam kemudian bertapa di Desa Guci pada zaman cucu Kyai Klitik.

Ulama inilah yang memberi nama air terjun di sebelah atas Pemandian Pancuran 13 yaitu Curug Serwiti sebab banyak muncul burung serwiti dan diatas curug itu ada lagi sebuah curug yang indah bernama Curug Jedor yang tidak pernah diketahui asal muasal nama tersebut. 

Dari daerah Guci setelah semua puas untuk berasakan kehangatan air panas di Guci kamipun tak lupa mengabadikan moment tersebut dan tak lupa membawa oleh – oleh untuk keluarga yang menunggu kami dirumah. Oya sayur – sayuran dan buah – buahan disini masih sangat segar karena berada berasal dari daerah pegunungan. Kami berangkat jam 14.30 wib dan melanjutkan perjalanan kembali, tak lupa kami makan sore dan menjalankan ibadah Sholat di SPBU setempat dan sesampainya di Jogja sekitar jam 22.00 wib.
 




   

Tuesday, 10 February 2015

Menapaki Keindahan yang tersembunyi di Pegunungan Menoreh ( Embung Kleco - Grojogan Sewu )

Keinginan untuk explore wisata di daerah Kulon Progo memang sudah lama kita rencanakan keinginanku saat itu adalah menapakkan kaki di kebun teh, masih di Pegunungan yang sama hanya berbeda lokasi saja dan tujuan kami terlebih dahulu di Embung Kleco dan Air Terjun. Masih banyak tempat yang bagus dikunjungi seakan kita menapaki sebuah tempat yang tersembunyi dengan rute perjananan yang tidak mudah, akses menuju daerah sini belum lengkap sehingga masih perlu bertanya dengan warga setempat untuk dapat menemukan surga – surga alam yang tersembunyi di Pegunungan Menoreh.


Suasana daerah yang masih jauh dari kebisingan, suara burung, binatang jangking yang sangat keras di keheningan sangat nyaman terdengar seakan kembali ke pedesaan, jalan yang menanjak curam  membuat pengendara harus berhati – hati,  karena jalanan masih belum sempurna.

Tujuan pertama dari explore daerah Kulon Progo dengan slogan Kulon Progo the Jawel of Java pengen kita angkat disini. Pastikan dulu rute sudah di pelajari ke arah Samigaluh, rute pertama wisata yang paling dekat adalah Embung Kleco, pemandangan diatas sangat bagus seperti hamparan karpet hijau yang sangat luas dan perbukitan, retribusi disini juga masih gratis. Tak lupa untuk yang suka foto bisa mengambil foto dan hanya meninggalkan jejak saja, tetap jaga lingkungan jangan buang sampah sembarangan. Jangan rusak tempat yang masih alami dengan corat – coret.

Udara di atas bukit ini sangat dingin dan sejuk sekali, paling baik bila kita kembali ke alam untuk menyegarkan pikiran dan menghindari hiruk pikuk keramaian, karena sensasinya terbukti menenangkan pikiran. Tak lupa saat mengunjungi tempat ini ternyata ada patroli dari polisi setempat untuk menjaga hal – hal yang tidak diinginkan.. salut buat pak polisinya :D

Perjalanan berikutnya ke Grojogan Sewu

terletak di Dusun Beteng Desa Jatimulyo Kecamatan Girimulyo Kabupaten Kulon Progo Jogja. Jalan menuju ke tempat itu juga sudah diaspal, tetapi masih ada beberapa tempat yang jalannya sudah rusak, setelah turun hujan jalanan yang dicor semenpun menjadi licin maka harus berhati – hati demi keselamatan.  Jalan aspal menanjak sepanjang 7 km membuat beberapa sepeda motor pun tidak kuat menanjak. Hati – hati di tikungan beringin karena orang banyak mengangap di daerah ini  sebagai Trademark yang terkenal karena banyak memakan korban mesin yang busi – busi motornya bahkan ada yang meledak. Kita dapat memarkir kendaraan di rumah warga yang memang sudah disediakan dan retribusi ke air terjun ini masih seikhlasnya saja lho.


Di pegunungan itu perubahan cuaca tidak dapat diprediksi sehingga hujanpun hanya terjadi sebentar karena pergeseran angin. Akses dapat di tempuh dengan berjalan kaki sekitar 30 menit dengan turunan yang lumayan panjang, tapi ada juga jalan yang datar sehingga tidak lelah diperjalanan, saat itu kami harus melepas alas kaki karena tanahnya sangat licin setelah tadi turun hujan hujan sehingga rawan terpeleset.

Menapaki setiap anak tangga yang masih asli karena tangganya juga masih tanah belum di cor sama sekali. Sekedar saran untuk yang mau ke sini dapat mempersiapkan mantel hujan, dan persiapan fisik untuk naik turun tanjakan dan dengan kondisi tersebut kita harus berpegangan di batang bambu yang masih dibuat secara sederhana, dan tidak lupa membawa bekal karena belum ada warung didaerah sana.

Hawa sejuk sangat terasa di tempat ini, gemercik air sudah terdengar di kejauhan yang menandakan cukup deras arus  air terjunnya. Ketinggian air terjun kurang lebih 40 meter  dengan air yang bertingkat – tingkat dengan dasar batu – batuan yang lumayan licin. sehingga kita harus memilih tempat paling pas buat menikmati keindahan air terjun ini. Objek wisata disini termasuk dalam konsep ekowisata yaitu : wisata yang mengandalkan keindahan dan keaslian alam.