Showing posts with label View Gunung / Perbukitan. Show all posts
Showing posts with label View Gunung / Perbukitan. Show all posts

Tuesday, 3 January 2017

Bunker Kaliadem Gunung Merapi

Pernah berkunjung ke tempat ini belum pemirsah ? karena apabila kita mengikuti lava tour pasti salah satu tempat yang termasuk dalam serangkaian wisata yang wajib dikunjungi adalah di Bungker ini dan masih melanjutkan dari postingan sebelumnya Lava Tour Merapi yang ada di Jogja saya ingin menjelaskan sedikit mengenai tempat ini.


Lokasi Kaliadem
Berada di desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, Indonesia. Dari Jogja dapat ditempuh ± 25 - 30 km ke arah utara Kota Jogja. Udara yang sejuk dan dingin serta memiliki keindahan dan keunikan disetiap sisinya termasuk kuliner yang sangat terkenal seperti sate kelinci dan jadah tempe, wedang ronde, kopi merapi dll yang menjadi kuliner khas daerah Kaliurang.

Kaliadem sendiri merupakan sebuah lokasi yang banyak dikunjungi wisatawan untuk melihat keindahan Gunung Merapi dan napak tilas dari kedasyatan erupsi Gunung Merapi tahun 2010 yang banyak memakan korban jiwa, termasuk 2 relawan yang meninggal di tempat tersebut.

Keberadaan Bunker / ruang bawah tanah yang dibangun di lereng Gunung Merapi sebenarnya digunakan sebagai tempat perlindungan darurat atau tempat untuk berlindung dari kemunculan awan panas ( wedhus gembel ) Gunung Merapi, sehingga banyak pertanyaan yang telintas kenapa hal ini bisa terjadi karena tempat yang seharusnya bisa buat berlindung malah sebaliknya yang terjadi.

Suhu yang sangat panas membuat fisik mereka tidak mampu bertahan dan akhirnya meninggal dan jasat yang ditemukan seperti terpanggang hawa panas, proses evakuasi beberapa saat setelah erupsi kondisi bungker Kaliadem nyaris rata dengan tanah.

Bentuk bangunan yang menjorok kedalam tanah dengan beberapa anak tangga turun serta suasana yang gelap dan hanya terlihat batu besar di tengah ruangan sekitar 6 x 6 meter berbentuk setengah lingkaran. Dari cerita yang ada oleh masyarakat setempat terdengar suara orang menangis terjadi di sore hari tetapi pelajaran yang dapat kita ambil bahwa semua kejadian sudah digariskan sama yang Maha Kuasa, manusia hanya bisa berencana sementara yang terjadi adalah kehendakNya.


Kita harus tetap menjaga alam di sekitar kita dimanapun kita berada karena alam kadang tidak memerlukan kita tetapi kita sangat bergantung pada alam. Semoga bermanfaat dan terima kasih.

Wednesday, 28 December 2016

Lava Tour Merapi yang ada di Jogja

Long Weekend pada kemana ne gaeeesssss ? pertanyaan itu sudah ada beberapa hari yang lalu menyambut libur panjang Tahun Baru 2017, dan kebetulan bertepatan dengan libur anak sekolah selama 2 minggu. Pasti pilihan keluar kota menjadi pilihan sobat semua.



Selamat datang kami ucapkan untuk wisatawan dari kota lain yang sedang berkunjung ke kota Gudeg ya. Jogja selain dikenal sebagai kota Pelajar juga sering disebut kota Gudeg. Kali ini saya mengunjungi wisata alam yang terkenal di daerah Gunung Merapi yang berada di Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.


Gunung Merapi merupakan salah satu gunung yang teraktif di Indonesia karena menyimpan banyak cerita. Terakhir erupsi Merapi tahun 2016 dan menjadi sorotan di media cetak maupun media sosial karena memakan korban jiwa.


Beberapa tempat seperti Kaliadem yang dulunya merupakan daerah yang perkemahan yang hijau dengan hamparan tanah yang sangat luas lengkap dengan fasilitas basecamp pendakian dan gardu pandang, toilet dan warung makan serta musholla sekarang tertimbun bekas lahar Merapi yang digunakan untuk lava tour Merapi kaliadem. Wisatawan akan disuguhkan bekas material letusan gunung Merapi, sisa harta yang terkena awan panas dan ada di museum Sisa Hartaku, juga menyaksikan bunker tempat yang digunakan untuk berlindung dan telah memakan korban saat itu.


Lava tour akan di pandu dan dijelaskan oleh Bapak pengemudi Jeep dengan tujuan wisatawan yang datang dapat menyaksikan kedasyatan letusan Gunung Merapi dan menyaksikan puncak Gunung Merapi dari arah yang cukup dekat dengan jarak pandang sekitar 2 km dengan ketinggian 2.965 mdpl yang sampai saat ini masih terlihat mengeluarkan asap sulfatara dari kawahnya.


Akses ke lokasi wisata :
Dari Jogja dapat ditempuh sekitar 1 jam dengan jarak ± 35 km ke arah utara menuju Kaliadem. Wisatawan dapat memarkir kendaraan pribadinya di area yang sudah ditentukan dan dapat melanjutkan dengan menggunakan Jeep / Motor Cross karena akses yang tidak mudah. Paket pilihan Jeep ada beberapa macam tergantung rute dan tempat tujuan mulai dari Rp. 350.000 s/d Rp. 600.000 yang berjumlah 4 orang penumpang / jeep, dan motor cross dari mulai Rp. 50.000 s/d 100.000 ( harga dapat berubah sewaktu - waktu ).


Selamat berlibur dan selamat tahun baruan di Jogja, tetap jaga keindahan dan utamakan keselamatannya ya :)

Thursday, 13 October 2016

Kawah Wurung

Bondowoso tujuan kami beberapa minggu lalu, berada di rumah teman kami mas Aan dan berkenalan dengan keluarga besar serta ikut Lebaran Haji dikota ini terasa sangat berbeda he..namanya dirumah teman dan berbaur dengan masyarakat yang kita baru kenal tentu saja berbeda, mengelilingi pusat kota Bondowoso sangat cepat kami selesaikan, bermalam mingguan di Alun - alun kota Bondowoso, menikmati minuman teh blangkon dan makanan khas daerah sana, kebetulan ada pengajian akbar di pusat kota. Kota ini dihuni sekitar 800 ribu jiwa dengan luas wilayah 1.560 km persegi di daerah pegunungan dan menjadi satu - satunya wilayah kabupaten di  daerah Tapal Kuda yang tidak memiliki garis pantai.

Tujuan utama kami ke Kawah Ijen tetapi sebelum kesana kami mengunjungi Kawah Wurung terlebih dahulu sebelum petang menjemput kami.

Kawah Wurung
Berada di Desa Jampit, Kecamatan Sempol, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, dibawah pengelolaan Perhutani KPH Bondowoso dengan luas sekitar 100 ha. Dari pos Paltuding sekitar 9,8 km. Kawah Wurung adalah sebuah kawasan perbukitan dengan hamparan padang rumput ( savana ) yang hijau dimusim penghujan dan berwarna kuning di musim kemarau. Bentuknya yang seperti kawah gunung dengan perbukitan yang dikelilingi sebuah lubang raksasa seperti kaldera. 

musim kemarau saat kimi berkunjung kesini
Sebelum kami ke kawah Ijen kami mengunjungi tempat ini terlebih dahulu, akses masuk jalan yang masih berbatu dan tanah belum beraspal dengan tanjakan dan tikungan dengan jalan bergelombang dan sempit membuat kita harus berhati - hati. Tanjakan disini keren lo sama kayak di Semeru he..namanya Tanjakan Cinta karena kita melewati jalan yang menanjak dan bergelombang sekitar 100 meter dan di ujung dari tanjakan ini ada sebuah puncak bukit yang melingkat bernama Bukit Cincin. Bukit Cincin ini sebuah kubangan besar yang berbentuk seperti kaldera besar terlihat melingkari Kawah Wurung sehingga dinamakan seperti itu.

Musim penghujan dari sumber ( @nadyaimaniar )
Kawah Wurung merupakan kawah yang tidak jadi dan bisa diartikan juga kawah yang telah mati karena pada umumnya terdapat air atau endapan belerang dengan buih - buihnya. Hamparan rumput yang luas serasa kita berada di bukit Teletubbies saja seperti di negeri dongeng, juga ada yang bilang seperti miniatur Gunung Bromo bahkan sering disebut juga padang savana di New Zealand. Rumput hijau dimusim penghujan laksana jamrudnya Bondowoso dan berbagai nama panggilan indah lain.


Fauna yang sering terlihat seperti kijang, sapi yang bebas berkeliaran dipadang rumput ini, dari atas terlihat jelas hamparan eumput yang seperti permadani dengan jalur setapak diantara rumput ilalang. Dikejauhan bibir kaldera Ijen berdampingan dengan Puncak Merapi, dan disisi lain Gunung Raung terlihat kalderanya yg terjal akan sangat - sangat memanjakan mata, saya pribadi sangat menikmati keindahan alam ini dan mengabadikan dengan jepretan kamera.

Akses ke Lokasi
Bisa diakses dari 2 tempat dari Banyuwangi dan Bondowoso

Via Bondowoso
dari Surabaya > Bondowoso lewat jalur Pantura > Besuki > ambil pertigaan ke arah Bondowoso > Wonosari > Kawah Ijen > Desa Sempol > Kawah Wurung > ada 2 rute > Perkebunan Jampit dan Margahayu.

Via Banyuwangi
Kawah Ijen > Paltuding > Bondowoso sekitar 40 km > Kali Pahit > Kawah Wurung.

Saturday, 17 September 2016

Kawah Ijen dengan keunikan Bluefirenya

10 September 2016 kami memutuskan mengunjungi Kawah Ijen yang terkenal karena Blue Firenya  / Api Biru yang hanya ada 2 di dunia yaitu Indonesia dan di Islandia, fenomena Blue Fire menjadi salah satu kekayaan alam yang tak ternilai bagi Indonesia yang dapat meningkatkan pariwisata karena banyak wisatawan mancanegara sangat ingin menyaksikan keindahan alam yang langka ini.


Kawah Ijen terletak di puncak Gunung Ijen merupakan bagian dari Taman Nasional Baluran berada di perbatasan Kabupaten Bondowoso dan Banyuwangi yang letaknya di ujung timur dari wilayah Provinsi Jawa Timur.

Dari Jogja kami berangkat dengan bis perjalanan dimulai dari jam 19.00 wib - 07.00 wib atau sekitar 12 jam perjalanan, dan dilanjutkan naik 2 kali kendaraan umum untuk selanjutnya dijemput teman kami di bondowoso.

Setelah beristirahat di rumah teman kami mas Aan dan bersilaturahmi dengan keluarga beliau kami berangkat jam 2 siang dengan menggunakan sepeda motor melewati hutan yang masih alami sekitar 3 jam perjalanan. Kami berhenti di Kawah wurung dan melanjutkan perjalanan sebelum magrib dan tiba di pos Paltuding sembari mendirikan tenda untuk beristirahat, udara dingin sudah terasa sewaktu kami di perjalanan, jam 19.00 wib suhu mencapai 16 °Celcius, dan jam 21.30 wib mencapa 6 °Celcius kami menghangatkan diri dengan pesan minuman hangat juga makanan untuk mengisi tenaga sebelum memulai treeking.

Pintu Masuk Kawah Ijen
Paltuding menjadi pintu masuk kami ke Kawah Ijen berada di kaki gunung Merapi - Ijen, kita wajib melapor dan membayar tiket masuk Rp. 7.500 / pax. Pendakian baru dimulai pukul 01.00 - 14.00 wib karena adanya gas beracun yang dapat membahayakan keselamatan sehingga kita wajib mengikuti peraturan yang ada. Fasilitas kamar mandi, area parkir, camping ground, warung makan sudah tersedia.


Akses ke Kawah Ijen
dari Starting Point Surabaya Ada 2 jalur
1. Kabupaten Banyuwangi ke Paltuding sekitar 30 km 
Banyuwangi > Licin > Jambu > Paltuding > Kawah Ijen
2. Kabupaten Bondowoso ke Paltuding sekitar 76 km
Bondowoso > Sempol > Banyupahit > Paltuding > Kawah Ijen

Kawah Gunung Ijen memiliki danau berwarna hijau dengan tebing berwarna kuning karena belerang. Pengunjung semakin banyak berdatangan setiap tahunnya terutama wisatawan mancanegara dengan ditetapkannya Gunung Ijen sebagai cagar biosfir oleh Unesco pada Maret 2016.

Kawasan Wisata Kawah Ijen masuk wilayah Cagar Alam Taman Wisata Ijen dengan luas 2.560 hektare, juga termasuk hutan wisata seluas 92 hektare. Gunung Ijen merupakan gunung berapi aktif dengan ketinggian 2.443 mdpl di atas permukaan laut berdampingan dengan Gunung Raung dan Gunung Merapi. Kawah Ijen berada di puncak Gunung Ijen di wilayah Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi dan Kecamatan Klobang, Kabupaten Bondowoso.

Luas Kawah Ijen yang merupakan sebuah danau terbentuk akibat proses letusan Gunung Ijen, kawah dipenuhi air, kawah ini sekitar 960 meter x 600 meter dengan kedalaman 200 meter merupakan salah satu kawah paling asam terbesar didunia dengan tingat keasaman mendekati 0 sehingga dapat melarutkan tubuh manusia dengan cepat.


Kami bersiap untuk melakukan perjalanan jam 00.30 malam dengan banyak rombongan, perjalanan menuju kawah sekitar 3 jam dengan jarak tempuh sekitar 3 Km di tengah dinginnya malam kita sangat dimanjakan dengan ribuan bintang - bintang yang sangat dekat di langit seolah melunasi kekecewaan kita saat ke Gunung Andong beberapa minggu lalu. Keindahan temaran  lampu - lampu kota di kejauhan, ribuan bintang dan dinginnya malam, badai yang munusuk tulang serta semangat dari kawan - kawan sehingga kami bisa tepat di Puncak Gunung Ijen.

Pos terakhir dan hanya satu - satunya disini adalah Pondok Bundar atau yang lebih dikenal dengan nama pos penimbangan sebagai tempat menimbang belerang yang diambil para penambang dari Kawah Ijen di ketinggian 2,226 mdpl. Tempat ini juga menyediakan makanan dan minuman yang buka dini hari.


Beristirahat sejenak sebelum menuruhi dinding kawah karena gelapnya malam sehingga pandangan kita hanya fokus di pijakan kami menuruni bebatuan berpasir dan tanah. Blue Fire hanya dapat disaksikan mulai dini hari - 05.00 wib.

Menyaksikan sendiri keindahan ini sungguh tidak bisa diartikan dengan kata - kata, setelah puas berfoto ria dan menyaksikan fenomena ini kami bergegas manaiki bebatuan, sepanjang jalan berpapasan dengan turis asing dari Eropa, juga warga Korea dan China juga wisatawan domestik, kami semua punya tujuan sama yaitu menyaksikan fenomena langka ini.


Begitu banyak pengunjung, jalanan yang kecilpun menjadi macet, sehingga kami harus bergantian untuk jalannya, yang penting sabar dan harus hati - hati salah melangkah bisa terpeleset atau salah pijakan batu bisa jatuh dan kena wisatawan di bawah.


Pemandangan lain yang bisa kita saksikan adalah banyaknya penambang belerang tradisonal yang mencari nafkah dengan cara seperti ini, mereka harus menuruni danau, menggali belerang hanya dengan peralatan sederhana, dengan masker seadanya, memikul keranjang dengan berat 30 kg - 100 kg sejauh 3 kilometer. 

Kerajinan yang dibuat untuk tambahan penghasilan oleh sebagian penambang
Dari pemandangan ini kita bisa menyaksikan sungguh orang - orang ini  begitu berjuang untuk mencari nafkah mencukupi kebutuhan keluarganya, semoga di berikan rejeki yang banyak, kesehatan dan keselamatan, masihkan kita mengeluh melihat pamandangan seperti itu tentunya kita akan berasa bersyukur atas apa yang kita miliki saat ini.

Setelah puas menikmati dan mengagumi keindahan Gunung ijen dan Blue Fire kami bergegas melangkah turun, sepanjang perjalanan banyak Cemara gunung, bunga Edelweis atau bunga keabadian terlihat juga disini walau jumlahnya hanya sedikit.


View Gunung Merapi dan Gunung Raung, Gunung Suket, Gunung Rante serta deretan gunung lain dengan perpaduan hijaunya tumbuhan serta kawah Wurung yang tampak hijau dikejauhan berpadu dengan birunya langit serta udara dingin serta cahaya matahari semakin membuat kami sedikit - sedikit mengabadikan keindahan tersebut dengan bidikan kamera, dan beruntung kami ditemani 2 fotografer kece @aan_imaji dan @februkresnanto sehingga hasil foto semakin yahud terlihat. Bersahabat dengan alam tetap menjaga kebersihan dan keindahannya.


Sedikit himbauan trekking ke Kawah Ijen
1. Demi keamanan turuti peraturan yang yang ada, pendakian di tutup jam 14.00 wib karena asap pekat dari Kawah Ijendan baru dibuka dini hari jam 01.00 wib.
2. Bawa Masker demi keamanan karena menyusuri jalan setapak di tebing kaldera, asap belerang kadang tertiup angin hingga jalur tersebut.
3. Istirahat secukupnya jangan lama - lama karena semakin banyak istirahat akan semakin capek dijalan, langkah kecil - kecil yang penting stabil.
4. Minum sedikit saja setiap 15 menit demi mencegah pelambatan metabolisme tubuh.
5. Pakai penutup kepada dan telinga untuk menjaga kondisi tubuh dari dinginnya suhu.
6. Pilih sandal gunung / sepatu gunung demi keamanan.
7. Gunakan celana cargo dan jaket gunung demi kenyamanan dari dinginnya cuaca
8. Bawa jas hujan di musim penghujan, sangat penting karena tidak ada tempat berteduh.

Sunday, 28 August 2016

Pesona Gunung Andong tertutup kabut sepanjang hari


Bulan Agustus akhir cuaca di gunung memang tidak bisa di tebak, beberapa hari ini mendung dan tertutup kabut, hal ini terjadi juga pada kami yang melakukan perjalanan kesana tgl 27 Agustus 2016 kemarin.


Gunung Andong berada di ketinggian 1726 mdpl di daerah Magelang, nama gunung ini sering terdengar dimana - mana karena semakin banyak pecinta alam yang suka ke Gunung ini. Tidak hanya sekedar hobi mendaki gunung sudah menjadi sebuah trend saat ini, persiapan mental dan fisik yang prima sangat diperlukan apapun tingkat medan yang dihadapi.

Mendaki gunung yang dulu diminati untuk kaum pria kini juga banyak diminati oleh wanita. Gunung bertipe perisai di daerah Ngablak, Grabag, Magelang dengan jalur utama di Desa Sawit dengan retribusi Rp. 5.000 / orang. Jarak tempuh dari Jogja ± 2 jam sekitar 78 km. Cuaca dingin di Magelang sudah mulai kami rasakan diperjalanan dan setibanya di Basecamp kami beristirahat sebentar untuk sholat Magrib di salah satu rumah penduduk.

Sekitar jam 7 malam kami mulai pendakian dan melewati medan dengan jalurnya yang naik terus sehingga cukup menguras energi dapat bonus tempat yang tidak menanjak hanya sebentar, melewati tangga yang tersusun dengan bambu di pinggir serta melewati hutan pinus. Di tengah perjalanan kami disambut rintikan hujan yang awalnya kami kira hanya awan yang membawa air hujan sehingga kami hanya memakai jas hujan atasannya saja dan ternyata hujan bertambah deras kami enggan beristirahat lagi dan tetap meneruskan perjalanan.

Hati - hati karena tanah yang licin dan air yang mengucur deras dari tanjakan diatasnya semakin membuat langkah semakin melambat karena yang terpenting dari semua itu adalah keselamatan untuk pulang ke rumah dengan selamat. Salah melangkah jurang menganga ada di sebelah kiri, pelan - pelan saja sesuaikan dengan kemampuanmu jangan malu info sama rombongan kalau harus istirahat sebentar.

Trek setelah keluar dari Basecamp Sekar Arum terbentang lapangan luas kemudian tanjakan - tanjakan yang lumayan menguras tenaga sehingga beberapa kali rombongan kami harus break. Kabut sudah mulai turun dan kami tidak bisa melihat pemandangan di sekitar karena gelap. Sampai puncak camping ground Puncak Jiwo tapat 2,5 jam perjalanan itupun karena cuaca tidak mendukung dari awal kita naik sudah disambut turunnya hujan.

foto diambil saat pulang
Selain Puncak Andong ada juga Puncak Makam di sebelah barat, dan Puncak Alap - alap di sebelah timur. Biasanya pendaki hanya menuju Puncak Alap - alap karena letaknya cukup dekat dengan Puncak Andong, kita harus melalui Jembatan Setan yang membuat nyali menciut karena hanya sekitar 1 meter diantara jurang, malam hari kami lebih fokus melihat kebawah menapaki setiap langkah kaki untuk bisa sampai puncak, tapi entah bonus apa yang kami dapat besuk pagi saat terang sudah terlihat.

Ketika berhasil melewati rintangan tersebut dan mengendalikan rasa takut dll kita akan menikmati keindahan diketinggian, temaran lampu - lampu dari kejauhan menunjukkan kita sudah semakin dekat dengan puncak, kami mencari tempat untuk mendirikan tenda dan hujan tidak ada hentinya malam itu sehingga kami hanya bisa beraktifitas di dalam tenda saja.


Pagi hari Adzan Subuh berkumandang dan dibalik cendela kabut terlihat pekat sekali, udara dingin sangat terasa, pagi ini kami tidak mendapat Sunrise karena sampai siang hari kabut sangat tebal, view ajib dari Gunung Merbabu dan gunung - gunung lain seperti Gunung Merapi, Gunung Telomoyo, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Prau hanya terlihat sebentar dan berkabut lagi dikejauhan.


Puncak gunung dan view pemandangan alam beserta deretan sawah dan hijaunya pepohonan di kejauhan sedikit terlihat bagai sebuah lukisan mahakarya sang maestro. Dari ketinggian kita dapat melihat kalau kita hanya kecil dihadapan Sang Pencipta.


Kami yang menunggu kabut hilang dan tetap duduk santai sembari menikmati secangkir kopi untuk menyaksikan view di balik kabut putih, sesekali kabut datang dan pergi membuat kami semua berteriak dan berdoa untuk bisa melihat pemandangan dikejauhan, tetapi sekali lagi cuaca di alam tidak dapat di duga, bahkan pulangnya pun kami juga di temani hujan yang deras tidak kalah dari semalam, trek yang menguji kesabaran dan kehati - hatian karena jalan menurun akan lebih licin lagi, mungkin next time kami akan balik kesini lagi untuk dapat view ajib dari sini, Happy mountainerring :)


Saturday, 13 August 2016

Bukit Pethu kini hadir dengan tambahan spot berfoto ria

Semakin banyaknya antusias masyarakat di sosial media dengan latar belakang pemandangan alam, kini setiap daerah semakin menambah fasilitas dan spot baru untuk mengabadikan moment, mungkin sebagian orang tidak menyukai hal ini, akan tetapi sebagian yang lain tentunya berbeda, seperti mata koin yang pada satu sisi berbeda dengan yang lain tetapi mereka akan sependapat bahwa refresing di alam bebas itu menyenangkan dan tentunya menyehatkan, menghirup udara pagi, berolah raga dsb.

Wisata alam yang berada di ujung barat kota Jogja masuk dalam kawasan Suaka Margasatwa Waduk Sermo satu - satunya Waduk yang ada di Jogja antara lain : Kalibiru, Canting Mas Puncak Dipowono, dan baru - baru ini Bukit Pethu hadir meramaikan alternatif wisata alam di kota Wates, Kulon Progo.



Lokasi Bukit Pethu
Dari Jogja - menuju kota Wates lewat jalan Jogja - Wates - Patung kuda Karangnongko belok kanan - menuju alun - alun Wates - Waduk Sermo - ikuti jalur di waduk sermo - masih memutari waduk sermo - ada petunjuk arah Bukit Pethu - belok kiri melewati jalan sempit hanya bisa untuk 1 kendaraan roda 4 - letaknya sebelah kiri jalan berbatasan langsung dengan Waduk Sermo.

Untuk retribusi di pintu masuk Waduk Sermo karena area ini masih satu wilayah dikenakan Rp. 5.000/ orang , untuk parkir sepeda motor Rp. 2000 / motor, mobil Rp. 5.000 / mobil, Naik Pohon Rp. 5.000 / orang,Fasilitas foto yang sudah disediakan minimal 3 kali dan Rp. 5.000 / foto. Foto bisa langsung dimasukan kedalam memori hp karena petugas sudah menyediakan fasilitas dari fotografer yang ada.

Waktu terbaik untuk foto
Sore hari karena cahayanya yang memberlakangi fotografer sehingga hasil ft akan terang siluet sore hari akan lebih indah. Sebelum menaiki 2 spot foto yang disediakan sebelumnya berkewajiban menggunakan alat pengaman yang disediakan oleh petugas.

Selamat berlibur :)

Saturday, 30 July 2016

Menyaksikan Sunrise dari Canting Mas Puncak Dipowono

Pagi hari sebelum matahari bergegas muncul diperaduan kamipun melakukan perjalanan dengan sepeda motor jarak yang bisa di tempuh sekitar 30 menit dari Kota Wates, tempat ini masih dalam tahap pembangunan dan mengalami perbaikan untuk kenyamanan para wisatawan.

Puncak Dipowono berada di perbukitan menoreh yang masih satu wilayah kelurahan yang sama dengan Kalibiru Kulon Progo di pegunungan menoreh, karena letaknyapun tidak jauh dari Kalibiru sehingga mempunyai view pemandangan ke arah Waduk Sermo disebelah selatan, dan pemandangan kota Wates, Bantul dan Jogja dengan bentangan hijaunya pepohonan di sebelah timur sangat pas untuk melihat Sunrise. 


Lokasi Canting Mas
Berada di dusun Clapar 2, desa Hargowilis, kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta yang berada di ketingggian ± 700 mdpl yang letaknya lebih tinggi dari Kalibiru. Akses menuju ke lokasi memang cukup menanjak dan berkelok - kelok dengan kondisi jalan sudah beraspal dan tidak terlalu lebar, sehingga hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda 2, apabila menggunakan kendaraan roda 4 harus lebih berhati - hati, kendaraanpun harus dalam kondisi baik terutama di bagian rem.



Akses menuju Lokasi Canting Mas
Dari Jogja –  lewat Jalan Wates – Stasiun Sentolo / Pasar Sentolo (jalan alternatif ke Wates) – Celereng – Pasar Clereng – belok kiri arah Kalibiru ( liat papan petunjuk setelah pasar clereng) – Taman Wisata Watoe Gembel, ambil kanan ( ikuti papan petunjuk ) – Puncak Dipowono Canting Mas.

Dari Jogja - menuju kota Wates lewat jalan Jogja - Wates - Patung kuda Karangnongko belok kanan - menuju alun - alun Wates - Waduk Sermo - ikuti jalur di waduk sermo akan ada papan nama Wisata Alam Kalibiru ikuti saja - di pertigaan paling atas ada 2 papan nama belok kanan Kalibiru - belok kiri bukit Canting Mas puncak Dipowono.



Fasilitas yang disediakan belum selengkap Kalibiru akan tetapi tidak ada salahnya untuk datang ke tempat ini, tidak perlu khawatir karena sudah ada penjual makanan dan minuman ringan serta area parkir yang sudah disediakan, di beberapa tempat juga sudah ada sarana tempat sampah untuk menjaga kebersihan, sebuah gazebo dan rumah pohon untuk berfito ria untuk menikmati Sunset di sudut yang berbeda bahkan ada wifi dan internet gtaris, juga untuk pengunjung yang mau camping pengelola juga memperbolehkan untuk ngecamp dengan minta ijin dulu tentunya.

Semoga kedepannya pengunjung dapat menikmati keindahan alam Puncak Dipowono ini.

Saturday, 16 July 2016

Tebing Breksi Jogja

Berkunjung ke Jogja akan selalu berbeda dan penuh warna, romantisme dan keindahan alam serta budayanya akan tetap menjadi magnet untuk para wisatawan.
Tebing Breksi terletak di Dusun Nglengkong, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Sleman. Batu – batu dari Tebing Breksi ini secara akademik berasal dari endapan abu vulkanik dari Gunung Api Purba Nglanggeran yang menggumpal atau berproses jutaan tahun yang lalu. Kawasan ini masuk cagar budaya dan harus dilestarikan.  


Tebing Breksi merupakan sebuah tebing bekas penambangan batu, warga sekitar melihat bekas – bekas galian meninggalkan gurat – gurat yang indah, perpaduan warna putih berkilau semburat kuning dan coklat dalam sebidang tebing yang luas  dan menghasilkan kupasan tebing setinggi 30 m dan karena pesona yang ditawarkan inilah maka Pemkot merapikan dan memperhatikan tempat ini untuk dijadikan tujuan wisata di kota Jogja, secara resmi Gubernur DIY Sri Sultan HB X telah meresmikan Taman Tebing Breksi dan Tlatas Seneng  merupakan panggung terbuka yang bisa dipakai untuk aktivitas seni dan budaya pada tgl 30 Mei 2015.


Destinasi wisata baru Tebing Breksi diharapkan dapat dikelola oleh masyarakat sehingga menjadi sebuah tujuan wisata yang dapat meningkatkan perekonomian warga sekitar, sementara Jogja tidak pernah melupakan unsur budaya sehingga dengan dibuatnya panggung terbuka dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pramuka serta kegiatan seni dan budaya dapat menjadi nilai positif untuk meningkatkan wisata di tempat tersebut.

Lokasi Tebing Breksi juga dekat dengan kawasan candi – candi di daerah Prambanan seperti : Candi Ijo, Candi Abang, Candi Ratu Boko, Candi Prambanan, dll, sehingga keberadaannya diharapkan mampu menambah daya tarik wisatawan domestik maupun mancanegara.

Akses menuju Tebing Breksi dari Prambahan sekitar 7 km, Letaknya sebelum Candi Ijo, dari arah Jogja sampai pertigaan Piyungan, bisa berbelok ke kanan, lurus sampai menyeberang ruas jalan Prambanan – Piyungan, kita ikuti papan petunjuk arah menuju Candi Ijo, sebelah kiri jalan  ada petunjuk wisata Tebing Breksi. Biaya retribusi hanya dikenakan biaya masuk seikhlasnya dan biaya parkir Rp. 2000 / motor dan  Rp. 5000 / mobil.

View yang ditawarkan juga ajib, apalagi kalau sore hari saat kita menyaksikan Sunset karena dari atas bukit pandangan kita sangat leluasa ke segala arah. Disebelah barat terpampang bandara beserta landasan pacu pesawat yang terlihat mungil dikejauhan. Disebelah Utara terlihat Gunung Merapi dan Merbabu serta Candi Prambanan yang megah. Disebelah timur dan selatan terlihat alur sungai dan deretan bukit serta perkampungan warga yang nampak kehijauan.

Saturday, 18 June 2016

Keunikan Kebun Teh Nglinggo yang menjadi satu – satunya di Jogja

Melanjutkan perjalanan setelah dari Gunung Kukusan kita ke beranjak turun memasuki area Kebun Teh Nglinggo karena lokasinya tidak jauh dari sana. Hamparan hijau pemandangan sangat meneduhkan mata dan tidak ada salahnya untuk mencicipi secangkir teh asli dari Nglinggo beserta makanan khas daerah sana yang sudah di kemas untuk oleh - oleh.


Perkebunan Teh Nglinggo ini terletak di Dusun Nglinggo, Desa Pagerharjo, Kecamatan Samigaluh, Kulon Progo, Yogyakarta yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Magelang.
Akses menuju kesana  Dari Jogja ( bisa lewat Ngamping - Jembatan Sungai Progo - Brimop - Perempatan Kenteng ( ambil kanan ) - Perempatan Dekso ( ambil kiri ) - Balai Desa Gerbosari - Balai Desa Ngargosari - Pertigaan Plano ( pasar ) ambil kanan - Kebun Teh Nglinggo.


Dari Magelang - Borobudur - Kecamatan Salaman -bisa nanya warga sekitar untuk jalan menuju Dusun Wonokerto, Desa Ngargoretno. Retribusi masuk ke area Kebun Teh dan sekitarnya hanya Rp. 3000 dan parkir Rp. 2000 sangat terjangkau bukan, tak sebanding dengan keindahan yang dapat kita temukan disana.

Keindahan hamparan hijau Kebun Teh berpadu dengan birunya langit, suara burung – burung, suasana damai akan sangat menyentuh hati sehingga sangat cocok untuk pecinta keindahan. Area KebunTeh Nglinggo ini juga tidak seluas kebun teh didaerah Puncak Bogor maupun di daerah Kemuning Karanganyar, tetapi Jogja juga punya ini kok untuk masyarakat sekitar Jogja yang belum sempat kesana sehingga tidak usah jauh – jauh untuk sekedar menikmati pemandangan Kebun Teh karena setiap tempat pasti punya ciri khas dan keunikan masing – masing.


Keunikan lain yang kita dapatkan adalah udara sejuk khas pegunungan dengan panorama 8 Puncak Gunung dan bukit serta pemandangan indah di wilayah pegunungan Menoreh. Trekking di hamparan tanaman teh yang sudah disediakan jalur setapak untuk mempermudah akses kita untuk masuk ke area kebun teh untuk berfoto ria, mengamati dari arah dekat dan memegang pohon teh asal jangan merusak tentunya. Fasilitas lain juga ada off road mengelilingi kawasan kebun teh menjadi alternatif wisata menikmati pemandangan.

Mari lestarikan keindahan alam disekitar kita yang tentunya dapat berpotensi meningkatkan perekonomian untuk lebih dikembangan dengan tidak merusak dan menjaga kebersihannya.

Sunday, 5 June 2016

Menikmati Keindahan kabut tebal di Embung Kleco dalam suasana bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan tidak menghalangi untuk hangout menikmati keindahan alam disekitar kita, rindu dengan hamparan hijau pepohonan dan pandangan luas tanpa batas itu yang membuat saya dan sahabat saya mencari tempat ini.
 

Beberapa hari di musim penghujan dan bertepatan dengan bulan puasa memang banyak yang jarang wisata di alam hal ini karena kita harus menyiapkan ekstra tenaga untuk menuju kesuatu tempat saat kita sedang berpuasa. Kita yang tau kondisi badan kita, mana saat harus berhenti untuk menghela nafas dll, tetapi itu semua terbayar dengan keindahan kabut yang menyelimuti pandangan kita seakan berada di Embung Kleco ini seperti sedang diatas awan.


Waduk Mini Kleco merupakan salah satu embung buatan yang berada di Dusun Ngesong, Desa Giripurwo, Kecamatan Girimulyo, Kulonprogo, Yogyakarta. Ini untuk ke dua kalinya kami datang kesini karena akses jalan yang mudah dengan petunjuk arah serta kondisi jalan sudah beraspal.


Rute ke Embung Kleco jika Anda dari arah Jogja, langsung saja menuju ke arah jalan godean, jalan terus kebarat ke arah kulon progo, jarak antara per4an ringroad jalan godean sampai kulonprogo kurang lebih sekitar 15KM, akan ketemu jembatan kaliprogo.

Ada lampu merah, masih jalan terus ada pertigaan Sentolo, belok kanan menyeberangi rel kereta api, ikuti jalan tersebut dan sebelum jembatan ke dua belok kanan ke arah Clereng ( karena kali ini akses jalan yang kami tempuh berbeda dengan yang pertama kali ). 


Dari daerah Clereng kita ikuti papan petunjuk arah, ada jembatan nanti belok kanan dan lurus terus sampai ada petunjuk arah belok kiri dan menyusuri jalan beraspal yang lebih kecil dan memasuki area akan lewat jalan setapak kemudian belok kiri. Dibelokan ini aksesnya sedikit rumit karena apabila dengan kendaraan bermotor harus menjaga keseimbangan agar ban motor tidak masuk ke tengah ruas setapak karena ketinggian yang lumayan berbeda dengan cor setapak yang ada serta kondiri jalan yang sempit serta menurun dan berkelok.

Sesampainya disana sekitar pukul 06.00 pagi jadi parkirnyapun gratis dan belum ada biaya retribusi untuk memasuki area Embung Kleco. Suasana masih terlalu pagi, udara dingin menusuk kalbu, berbalut kabut tebal yang menyelimuti pemandangan bawah sana. Akses jalan dari area parkir menuju embung setelah jalan mananyak yang sudah dicor bataco, masih ada bagian yang masih proses dirapikan dalam kondisi perbaikan, fasilitas toilet juga masih belum tersedia, semoga kedepan fasilitas akan segera dilengkapi oleh pemerintah, sehingga dapat meningkatkan jumlah pengunjung serta dapat meningkatkan perekonomian bagi masyarakat sekitar.

Kabut tebal masih menyelimuti pagi ini sehingga view Gunung Merapi dan Gunung Merapi terhalang kabut dan hanya terlihat samar dibelakang. Tempat ini sangat cocok untuk para menikmat Sunrise karena posisi Embung Kleco ini berada di tempat yang lumayan tinggi sehingga bisa menikmati suasana Kulonprogo dan kota Jogja dikejauhan.

Pagi ini kabut serasa menghalangi pandangan mata kita ke mana – mana, yang terlihat hanya samar hijau diselimuti kabut. Bahkan sampai siang hari sekitar jam 8 pagi saja kekokohan Gunung Merapi Merbabu masih belum terlihat jelas, hanya gugusan pegunungan di arah barat yang sudah terlihat menghijau dan berpadu dangan birunya langit sungguh pemandangan yang indah hijau ketemu biru.

Pengunjung juga dapat menikmati tempat wisata lain yang letaknya tidak berjauhan, karena apabila sudah jauh – jauh berkunjung rasanya sayang kalau tidak dapat 3 - 4 tempat wisata didaerah yang sama karena sudah terlajur datang ke perbukitan menoreh, semoga info ini dapat membantu dan selamat menikmati wisata di Kulonprogo dan bagi yang menjalankan Ibadah Puasa semoga puasanya dilancarkan dan amal ibadah kita diterima Allah SWT amin.

Saturday, 26 March 2016

Pemandangan Elok yang di hadirkan oleh Gunung Kukusan

Pagi itu kita beranjak sejenak untuk menikmati keindahan di Bukit Menoreh. Selalu akan ada cerita dari Negeri tercinta Indonesia, kalau orang luar bilang Indonesia itu 'surga'. Banyak tempat-tampat yang luar biasa Subhanallah yang bisa membuat mata dan hati tenang saat menikmati keindahan yang Allah berikan untuk bangsa ini. Kita harus bangga menjadi Warga Negara Indonesia yang haruslah mencintai dan menjaga apa yang dimiliki oleh bangsa ini dengan segenap jiwa dan raga.


Perjalanan yang tanpa terencana dan menemukan pemandangan yang menakjubkan dari puncak Gunung ( kendeng ) Kukusan, kalau lebih bagus di pagi hari sebelum sang surya bersinar. Perjalanan menuju lokasi dari kota wates ± 1 jam, kita akan disuguhi dengan pemandangan asri dengan udara yang sejuk dan kabut dipagi hari, bentangan pegunungan nan hijau, sungai dengan bebatuan yang indah membuat kita pengen mandi dan bermain2 di air yang jernih.


Gunung Kukusan ini masih satu area dengan objek wisata kebun teh Nglinggo. Objek wisata Puncak Jaran dan beberapa Curuq / Air Terjun yang dapat kita singahi. Gunung Kukusan merupakan perbatasan dari 3 kabupaten yaitu : Kabupaten Kulon Progo ( Jogja ), Kabupaten Magelang ( Jawa Tengah ), Kabupaten Purworejo ( Jawa Tengah ). Untuk lokasi tepatnya Gunung Kukusan ini sudah masuk ke Wilayah Magelang, tetapi karena aksesnya lebih mudah lewat Kulon Progo untuk itu banyak yang menyebut masih berada di daerah Samigaluh, Kulon Progo, DIY.  Tepatnya di Dusun Wonokerto, Desa Ngargoretno, Kecamatan Salaman, Magelang, Jawa Tengah.


Rute lokasi kalau dari Jogja ( bisa lewat Ngamping - Jembatan Sungai Progo - Brimop - Perempatan Kenteng ( ambil kanan ) - Perempatan Dekso ( ambil kiri ) - Balai Desa Gerbosari - Balai Desa Ngargosari - Pertigaan Plano ( pasar ) ambil kanan - Kebun Teh Nglinggo.
Dari Magelang - Borobudur - Kecamatan Salaman - bisa nanya warga sekitar untuk jalan menuju Dusun Wonokerto, Desa Ngargoretno. Retribusi masuk ke area Kebun Teh dan sekitarnya hanya Rp. 3000 dan parkir Rp. 2000 kemudian tiket naik Gunung Kukusan juga Rp. 2000 sangat terjangkau bukan, tak sebanding dengan keindahan yang dapat kita temukan disana.


Di bagian sudut lain ada Gazebo dan hutan pinus dikejauhan, juga batu besar yang bisa digunakan buat manjat untuk mendapatkan spot foto yang keren yang belum kami kunjungi saat itu. Ada 2 puncak yang dapat kita tuju yang pertama yang lebih tinggi namanya Puncak Kendeng dan puncak ke 2 namanya Puncak Dempok. Puncak Gunung Kukusan mulai rame di perbincangkan baik oleh wisatawan lokal Jogja dan luar kota karena mempunyai pemandangan yang indah apalagi berbatasan dengan satu - satunya Perkebunan Teh yang ada di Jogja.


Puncak pertama namanya Puncak Kendeng adalah tujuan kita dan konon menurut cerita ada batu besar dengan gagahnya berdiri disana, pernah dibawa turun oleh warga yang saat itu juga akan membuka jalur Gunung Kukusan namun pagi hari batu tersebut sudah ada di atas lagi, entah siapa yang memindahkannya, dan dibawa turun lagi keesokan paginya udah di atas lagi sehingga oleh warga setempat batunya dibiarkan saja berada disana. Konon Penamaan Puncak Kendeng ini berasal dari nama seorang bayi yang dikuburkan diatas puncak. Bayi ini berasal dari rahim kerabat Pangeran Diponegoro, bayi ini bernama Pangeran Kendeng. Meninggal saat bayi melintasi daerah sekitar Gunung Kukusan dan batu itu saat ini juga masih ada disana yang dipercaya merupakan Batu Nisan dari Pangeran Kendeng.

Puncak yang kedua namaya Puncak Dempok yang letaknya lebih rendah tetapi tempatnya lebih luas sekitar 3 meteran atau bisa diisi 10 - 15 orang, hal ini berbeda dengan Puncak Kendeng yang luasnya lebih sempit hanya sekitar 1 meter atau bisa diisi sekitar 5 orang saja.

Sesampainya di daerah tersebut awan hitam datang menyelimuti keindahan siang itu. Memang untuk cuaca sangat mudah berubah - ubah dan pemandangan Gunung Merapi dan Merbabu tidak dapat kami nikmati, awan kelam datang dengan suara gemuruh menandakan akan turun hujan. Sehingga kami tidak menjumpai eloknya landscape Gunung Merapi dan Merbabu serta beberapa gunung seperti Gunung Sumbing dan Sindoro dibelakangnya tidak terlihat karena tertutup kabut, banyak yang bilang kalau kita beruntung kita bisa melihat keelokan 8 Gunung terkenal di Jawa Tengah mulai dari Merapi, Merbabu, Andong, Telomoyo, Ungaran, Sumbing, Sindoro, Prau mungkin lain waktu bisa saya saksikan keindahannya. Jarak pandang kita juga tidak luas karena yang tampak  hanya lapisan kabut putih di bawah sana sementara lereng dan bukit disekitar Gunung Kukusan yang hanya terlihat menghijau dari kejauhan.

Kedua Puncak itu menjadi spot favorit bagi para pemburu Sunrise, tak jarang juga untuk mendapatkan pemandangan cantik kuning keemasan para pemburu Sunrise rela bermalam di homestay maupun camping di sana, karena kalau kita beruntung akan menyaksikan 8 panorama gunung di Jogja dan JawaTengah.

Yang perlu diperhatikan adalah kondisi jalan berkelok - kelok, naik turun ada beberapa lokasi yang jalannya rusak dan menanjak, ada satu tikungan yang kita harus berhati - hati sekali setelah turunan dan belokan langsung nanjaknya lumayan panjang dan jangan lupa atur jarak kendaraan kita dengan yang lain, juga ada satu tempat yang sedikit rawan longsor, pastikan kendaraan dalam kondisi yang baik, cek juga kondiri rem demi keselamatan. semoga bermanfaat terima kasih :D

Saturday, 16 January 2016

Sensasi berbeda hunting foto di atas pohon - Puncak Becici

Puncak Becici mungkin sudah banyak orang yang mendengar tempat ini, terletak tidak jauh dari obyek wisata Kebun buah Mangunan dan Hutan Pinus Imogiri.



Hunting foto di Puncak Becici saya ingin merasakan apa yang berbeda di tempat ini dari tempat lain. Menuju ke lokasi Puncak Becici kita terlebih dahulu melewati hutan pinus dengan berjalan kaki kurang lebih 300 meter dari tempat parkir, belum dikenakan biaya masuk menuju lokai hanya biaya parkir saja Rp. 2000,-


Rute menuju lokasi dari :
Jogja – Jalan Imogiri Timur – Pasar Imogiri – Arah menuju Kebun Buah Mangunan – Pertigaan (ambil kiri menuju Hutan Pinus – Melewati Hutan Pinus – Pertigaan pertama ambil kiri (ada papan petunjuk ke Becici) – Pertigaan kedua, ambil kiri (ada papan petunjuk ke Becici) – Lurus terus (agak jauh) – Becici

Puncak Becici hadir dengan menawarkan pemandangan indah dari atas ketinggian, kita dapat menyaksikan pemamdangan perkampungan dari atas bukit dengan hijaunya pepohonan pinus serta semilir angin sangat membuat nyaman untuk berada di tempat ini.

Puncak Becici terletak di kawasan Hutan Lindung RPH Mangunan. Secara administratif, terletak di Dusun Gunung Cilik, Desa Muntuk, Kecamatan Dlingo, Bantul. Obyek wisata ini dikelola secara swadaya oleh masyarakat sekitar.

Pembangunan infrastruktur berupa lokasi parkir, papan petunjuk, dan bangunan semi permanen pun dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat sekitar. Letaknya berada di dalam kawasan Hutan Lindung, sehingga pembangunan infrastruktur tidak dapat dilakukan secara menyeluruh seperti obyek wisata pada umumnya.