Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Saturday, 30 May 2015

Menikmati Sore hari di Candi Sambisari

Candi Sambisari ditemukan pada tahun 1966 oleh seorang petani yang sedang mencangkul sawah, dan menemukan bongkahan batu yang mempunyai ukiran. Candi Sambisari sendiri berada dibawah permukaan tanah sekitar 6.5 meter, yang ketika pertama kali ditemukan terpendam oleh material vulkanik Gunung Merapi  yang meletus secara besar-besaran pada awal abad ke-11 (kemungkinan tahun 1006) kemungkinan besar karena tertimbun lahar Gunung Merapi, hal ini terlihat dari banyaknya batu material volkanik di sekitar candi.


Gunung Merapi berada di sebelah utara candi berjarak sekitar 40 kilometer. Setelah dilakukan penelitian oleh Dinas Purbalaka, ternyata batu tersebut adalah secuil batu kecil dari komplek candi yang sangat besar seperti yang terlihat saat ini. Candi ini ditemukan pada tahun 1966 oleh seorang petani di Desa Sambisari dan dipugar pada tahun 1986 oleh Dinas Purbakala. Nama desa ini kemudian diabadikan menjadi nama candi tersebut.



Taman yang indah menjadi pilihan yang cocok untuk duduk dan bersendau gurau bersama orang terdekat seperti : sahabat dan keluarga. Patualang bisa menikmati Candi Sambisari dari ketinggian sehingga akan nampak seluruh komplek candi. Waktu paling pas untuk datang kesini di sore hari dan kebetulan kami datang kemarin pas hari Sabtu tgl 23 Mei 2015 jam 14.30 wib, semakin sore semakin banyak wisatawan yag datang.
terdiri dari 1 (satu) candi utama dan 3 (tiga) candi perwara yang berada persis di depannya. Candi Induk menghadap ke arah barat, mempunyai bentuk bujur sangkar berukuran 13.65 meter x 13.65 meter berketinggian 7.5 meter.



Untuk mencapai Komplek candi Sambisari sangat mudah. Letaknya hampir berdekatan dengan Candi Sari Kalasan dan candi Prambanan. Petualang hanya tinggal melangkah ke arah barat menuju kota Jogja melewati Kalasan, sekitar 6km atau sekitar 6 menit silakan berbelok ke arah kanan (Balai Diklat Keuangan Jogja). Sekitar 7 menit perjalanan ke arah utara akan didapati candi Sambisari di sebelah kiri jalan.

Walaupun bukan merupakan obyek andalan utama di Jogjakarta, namun candi Sambisari juga bisa jadi alternatif berpetualang yang menyenangkan bersama kawan.
Untuk tiket masuk ke area komplek candi Sambisari cukup terjangkau, hanya membayar sebesar Rp. 2.000, dan parkir 2000.

Wednesday, 13 May 2015

Puro Pakualaman, Sebuah Istana Milik Sang Adipati

Puro Pakualaman merupakan sebuah Istana Kadipaten yang menjadi tempat tinggal semua generasi Paku Alam. Istana yang didirikan pada tgl 17 Maret 1813 atau awal abad XIX ini terletak di Jalan Sultan Agung, sekitar 2 km timur Kraton Yogyakarta. Pangeran Notokusumo, Putra dari Sultan Hamengku Buwono 1 dinobatkan sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati. Sesuai dengan fungsinya sebagai Istana Kadipaten, pada jaman kerajaan dulu Puro Pakualaman merupakan kediaman Adipati Keraton Yogyakarta yang bergelar Paku Alam. Adipati adalah pejabat kerajaan setingkat Perdana Menteri.


Bagi orang yang belum pernah tinggal di Jogja, nama Puro Pakualaman mungkin tak memberi kesan apapun. Tapi bagi yang pernah, nama tersebut pasti menghadirkan sebuah cerita, paling tidak dengan teh pocinya. Puro Pakualaman adalah sebuah tempat bersejarah yang erat kaitannya dengan berdirinya Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat.

Ketika memasuki pagar istana, pengunjung akan melewati sebuah lapangan yang saat ini sudah dipadati oleh warung-warung makan dan lapak penjual gerabah. Tanda yang menunjukkan lapangan ini merupakan bagian istana adalah keberadaan sebuah pohon beringin tua di salah satu sisinya. Selanjutnya, pengunjung akan memasuki sebuah gerbang bernama Wiworo Kusumo.


Dari pintu masuk ini, sebuah Joglo terlihat. Bagian depan Joglo dinamakan Wiworo Kusumo Winayang Reko yang berarti keselamatan, keadilan, dan kebebasan, dan berfungsi untuk menerima tamu dalam suasana tidak resmi. Bagian berikutnya adalah Pendopo Bangsal Utomo Sewotomo. Ruangan tepat di tengah joglo ini memiliki 4 pilar kayu jati ukir.

Salah satu sudut depan pendopo dilengkapi seperangkat gamelan yang diberi Kyai Kebogiro. Gamelan ini biasa dimainkan setiap hari Minggu Pon, 1 kali dalam 35 hari. Di bagian lain Pendopo, terdapat sebuah ruangan bernama Ruang China, tempat menyimpan barang-barang antik dari Cina. Ruang terakhir di Pendopo adalah ruang Srikaya, yang merupakan ruang kerja sang Adipati.

Di belakang Pendopo berdiri bangunan Dalem Ageng Proboyekso. Penggunaan kata ‘Dalem’ menandakan fungsi bangunan sebagai ruangan utama istana. Puro Pakualaman juga masih menyediakan tempat-tempat menarik untuk dikunjungi.

Ada pula Masjid Pakualaman. Masjid yang menjadi bangunan cagar budaya Yogyakarta ini dibangun oleh Paku Alam II sekitar akhir abad XIX. Pengunjung juga bisa menambah pengetahuan dengan mengunjungi paviliun Purworetno yang berfungsi sebagai perpustakaan istana. Perpustakaan ini memiliki koleksi buku-buku Jawa klasik termasuk buku karangan Paku Alam III berjudul Serat Dharma Wirayat.

Kompleks Puro Pakualaman dibuka untuk pengunjung hanya tiap hari Minggu, Senin dan Kamis, antara pukul 09.30 hingga 13.00. Setelah puas menikmati keindahan kompleks istana ini, pengunjung juga bisa menyambangi beberapa objek wisata di sekitarnya. Museum Jendral Sudirman, Ndalem Banaran, Ndalem Notokusuman, dan perkampungan di bantaran Kali Code adalah beberapa tempat menarik di seputar Pakualaman.

Sejak beberapa tahun terakhir, halaman depan Puro Pakualaman menjadi sebuah tempat nongkrong dan ngobrol yang asik bagi muda-mudi yang tinggal di Jogja. Kawasan ini terkenal dengan sajian teh poci gula batu yang pas untuk teman menghabiskan malam. Berbagai penganan tradisional juga tersedia, antara lain berbagai macam baceman, wedhang ronde, dan jadah bakar.

Tuesday, 28 April 2015

Goa Jepang - Kaliurang

Menapaki salah satu peninggalan Jepang di salah satu sudut Kaliurang, menjadi wisata alam yang cukup terkenal di Jogja. Kami ber tiga menyusuri kawasan ini dengan teman saya hendra dan aik untuk menyejukkan hati dengan wisata ke alam.


Letak Goa Jepang berada di dataran tinggi Kaliurang, tepatnya di lereng Gunung Merapi yang bernama Nirmolo Kaliurang dan berada di bawah pengelolaan Taman Nasional Gunung Merapi. Goa Peninggalan Jepang terlihat eksotis & bersejarah dengan udara pegunungan yang dingin dan sejuk. Kalau kita beruntung dapat menyaksikan kawanan monyet di habitat alaminya.

Menuju ke lokasi dapat masuk melalui pintu Nirmolo Kaliurang dan menempuh perjalanan menanjak sekitar 45 menit dengan jalur berliku. Tenaga mungkin akan terkuras untuk sampai di lokasi sehingga dapat menyaksikan keindahan Gunung Merapi dari jarak yang lebih dekat.

 


Goa Jepang dulu berfungsi sebagai tempat tinggal dan berlindung dari tentara sekutu. Goa Jepang berada di Kaliurang dengan jumlah 25 unit yang saling berhubungan satu sama lainnya, masih orisional, natural, lembab dan gelap.

 
 

Wisata alam dengan pemandanganserta bunga - bunga yang masih tumbuh alami dapat menyegarkan pikiran sekaligus dapat mengetahui sejarah di masa lampau.

Thursday, 9 April 2015

Kota Gede

Kotagede adalah nama sebuah kota yang merupakan Ibukota Kesultanan Mataram. Selanjutnya kerajaan itu terpecah menjadi Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Sebagai kota tua bekas Ibukota kerajaan, Kota Kotagede merupakan kota warisan (heritage) yang amat berpotensi bagi kemakmuran masyarakatnya.



Warisan kemegahan Kerajaan Mataram abad ke-16 Pada abad ke 14, Pulau Jawa berada di bawah kepempinan kesultanan Pajang yang berpusat di Jawa Tengah. Sultan Hadiwijaya, Sultan yang memimpin pada saat itu memberikan hadiah berupa Alas (hutan) Mentaok dengan area yang cukup luas kepada Ki Gede Pemanahan. Hadiah ini diberikan setelah beliau berhasil menaklukkan musuh kerajaan.

Selain itu di Kotagede juga terdapat sejumlah peninggalan Kotagede yang sangat menarik, sebagai peninggalan kerajaan Mataram Islam seperti :

1. Kompleks Masjid Besar Mataram / Masjid Kotagede, merupakan masjid tertua di kota Yogyakarta. Suasana tradisional masih sangat terasa di kota ini seperti berada di lingkungan keraton, lengkap dengan pagar batu berelief mengelilingi mesjid, pelataran yang luas dengan beberapa pohon sawo kecik, serta sebuah bedug berukuran besar.

Masjid Agung Mataram Kotagede, Yogyakarta (foto : apriyoga)


2. Makam raja-raja Mataram bernama komplek Pasarean Mataram yang terdapat makam Panembahan Senopati. Namun kemudian komplek makam raja-raja Mataram selanjutnya dipindahkan ke daerah Imogiri oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo saat masa pemerintahannya.



Kompleks makam pendiri kerjaan Mataram berada sekitar 100 meter dari pasar Kotagede, dikelilingi tembok besar dan kokoh. Pintu Gapura memasuki kompleks makam ini masih memiliki ciri arsitektur budaya Hindu. Setiap gapura memiliki pintu kayu yang tebal dengan ukiran yang indah dan dijaga oleh sejumlah abdi dalem berbusana adat Jawa. Ada 3 gapura yang harus dilewati sebelum masuk ke bangunan makam. Uniknya, kita diharapkan untuk menggunakan busana adat Jawa (bisa disewa di sana) untuk memasuki area makam. Pengalaman menarik menggunakan busana layaknya abdi dalem kerajaan Jawa kuno. Kita akan melewati 3 gapura sebelum sampai ke gapura terakhir yang menuju bangunan makam.

Pengunjung diperbolehkan untuk masuk ke dalam makam pada Hari Minggu, Senin, Kamis, dan Jumat, dengan periode waktu pada pk 08.00 - 16.00. Pengunjung tidak diperbolehkan untuk memotret dan mengenakan perhiasan emas di dalam bangunan makam. Sejumlah tokoh penting yang dimakamkan di sini adalah Sultan Hadiwiijaya, Ki Gede Pemanahan, Panembahan Senopati, dan anggota keluarganya. Memasuki makam suasana terkesan sepi dan tenang, serta sangat khusuk. Keluarga kerajaan, baik kraton Yogyakarta maupun Surakarta, masih menjaga kelestarian makam ini dengan sangat baik.

3. Sejumlah  rumah tradisional berarsitektur Jawa Mataram yang bisa dilihat di depan kompleks makam. Masih terawat dengan baik dan rumah tradisional ini masih digunakan oleh penduduk setempat sebagai tempat tinggal.



4.  Sisa reruntuhan benteng.
Di sebelah barat daya dan tenggara, kita juga bisa menemukan sisa reruntuhan benteng dengan tembok setebal >1 meter. Sementara, untuk melihat sisa parit pertahanan yang mengelilingi benteng, kita bisa beranjak ke sebelah timur, selatan, dan barat.





 




Berjalan jalan sambil menelusuri sejarah Kotagede akan menambah wawasan kita terhadap sejarah masa lalu kotagede yang pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan Mataram Jawa. Budaya dan sejarah patut dilestarikan karena merupakan asal muasal dari peradaban masyarakat Jawa saat ini. Mengenal kota Jogja tidak akan utuh tanpa berkunjung ke kotagede, pusat kerajaan Mataram di masa lalu.

Wednesday, 21 January 2015

Tugu Jogja

Menapaki salah satu sisi yang ada di kota Jogja, kita tidak akan pernah mengabaikan keberadaan dari Tugu Jogja yang menjadi penanda batas utara kota tua Jogja. Tugu Jogja adalah sebuah tugu atau monumen yang menjadi simbol atau lambang dari kota Jogja yang dibangun oleh Sri Sultan Hamangkubuwana 1 sebagai pendiri dari Kraton Jogja.


Tugu Jogja tidak lepas dari mitos yang bersejarah antara Laut Selatan, Keraton Jogja, dan Gunung Merapi karena leknya memanjang dan sejajar dari arah selatan ke utara. Pada saat melakukan meditasi Sultan Jogja pada waktu itu menggunakan tugu ini sebagai patokan atau penanda arah menghadap puncak Gunung Merapi.


Bangunan ini mengambarkan Manunggaling Kawula Gusti tentang semangat persatuan rakyat dan penguasa untuk melawan penjajah. Pada awal  dibangun ketinggian bangunan ini mencapai 25  meter. Kondisi tersebut berubah pada 10 Juni 1867 saat terjadi bencana alam gempa bumi besar yang melanda Jogja, sehingga bangunan tersebut runtuh dan di tahun 1889 saat Pemerintah Belanda merenovasi seluruh bangunan tugu dengan ketingian 15 meter atau 10 meter lebih rendah dari bangunan semula. 

Kalau kita beruntung kita dapat ketemu dengan berbagai kesenian yang menarik misalnya seperti seniman jalanan yang dapat menjadi daya tarik pengunjung seperti yang ada di bawah ini.



Seiring dengan perkembangan zaman Tugu ini menjadi salah satu objek wisata yang wajib untuk dikunjungi kalau sedang berada di Jogja. Istilah lain dari Tugu Jogja adalah “ Tugu Pal Putih “ pal berarti tugu, sementara warna cat putih ini adalah warna yang digunakan sejak dulu.

Sunday, 11 January 2015

Istana Ratu Boko

Istana Ratu Boko dan Lokasi

Istana Ratu Boko adalah sebuah bangunan termegah dijamannya yang dibangun pada abad ke – 8 atau masa pemerintahan Rakai Panangkaran, salah satu keturunan Wangsa Syailendra. Istana yang awalnya bernama Abhayagiri Vihara ( biara di bukit yang penuh kedamaian ) yang didirikan sebagai tempat menyepi dan memfokuskan diri pada kehidupan spiritual. Letak istana ini di 196 meter di atas permukaan laut dengan luas 250.000 m2, tepatnya di desa Dawung dan Desa Sambireja, sebelah timur Kota Jogja ± 19 km atau di sebelah selatan Candi Prambanan sekitar ± 3 km.

                                                Gerbang Utama ( Foto : wikipedia )

Sejarah Istana Ratu Boko dan Pengaruh Budaya Buddha dan Hindu

Istana ini didirikan oleh seorang pengikut Budha, akan tetapi memiliki unsur – unsur Hindu dilihat dari lempengan emas yang bertuliskan “Om Rudra ya namah swaha “ sebagai bentuk pemujaan terhadap Dewa Rudra yang merupakan nama lain Dewa Siwa. Ada sebuah prasasti kuno tahun 792 yaitu : Prasasti Abhayagiriwihara yang menyebutkan tentang Tejahpurnapane Panamkarana yang lebih dikenal dengan nama Rakai Panangkaran. Rakai Panangkaran yaitu Raja Mataram yang hidup tahun 746 – 784 masehi, merupakan pengikut Budha hidap berdampingan dengan para pengikut Hindu. Adanya unsur Hindu itu membuktikan adanya toleransi umat beragama yang tercermin dalam karya arsitektur.

 


Keindahan Arsitektur Istana Ratu Boko

Keunikan dari Istana Ratu Boko adalah tampak seperti sebuah Istana atau Keraton, dari bentuk bangunannya yang menunjukkan ciri sebagai tempat tinggal karena pada umumnya Istana itu berupa candi dan kuil. Pemandangan senja akan menjadi nilai tambah tersendiri dari tempat ini , kita dapat menikmati keindahan kota Jogja dan Candi Prambanan di ketinggian dengan Gunung Merapi sebagai penyempurnanya. Istana Ratu Boko  atau Abhayagiriwihara diartikan seperti sebuah vihara dengan Kemegahan di Bukit Penuh Kedamaian.